Sabtu, 12 September 2009

Mencari Cara Memprediksi Gempa Bumi

Apakah gempa bumi dapat diprediksi? Tantangan ini hingga kini belum terjawab. Namun, berbagai cara dilakukan, baik dengan menangkap fenomena alam maupun secara ilmiah. Belakangan ini tengah dicoba pengembangan deteksi kegempaan menggunakan gravimeter. Alat ini dilengkapi dengan sebuah sistem superkomputer yang disebut Superconducting Gravimeter (SG).

Bumi bukanlah benda statis, tetapi seperti mengalami dinamika. Pada inti atau mantelnya terjadi pasang surut atau pemuaian dan penyusutan. Proses ini dipengaruhi pula oleh tarik-menarik dengan planet di sekitarnya, terutama Matahari dan Bulan.

Perubahan kondisi Bumi ini dapat dipantau dengan parameter yang bekerja di dalamnya, seperti medan gravitasi, medan magnet, kelistrikan, suhu, porositas, atau kandungan air di permukaan tanah.

Dijelaskan Fauzi, Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, tekanan lempeng menyebabkan penekanan rongga-rongga di lapisan Bumi. Hal ini menyebabkan keluarnya air ke permukaan.

Sejak September tahun lalu Stasiun Pengamatan Gaya Berat Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) bekerja sama dengan perguruan tinggi di Jepang menerapkan Superconducting Gravimeter (SG).

Parluhutan Manurung, Kepala Bidang Medan Gaya Berat dan Pasang Surut Bakosurtanal, menjelaskan, alat ini merupakan bagian dari Global Geodynamics Project (GCP).

Keberadaan stasiun ini di Indonesia sangat penting karena merupakan satu-satunya di khatulistiwa dan kawasan tektonik paling aktif di dunia. Jumlah alat ini terbatas, hanya 25 unit yang tersebar dalam jejaring Stasiun SG Global.

Alat GCP berfungsi memonitor terus-menerus perubahan medan gaya berat atau gravitasi Bumi dari detik ke detik hingga tahunan. Alat ini memantau sinyal perubahan nilai gaya berat secara kontinu selama enam tahun sampai diperoleh empat parameter.

Sejak teori gravitasi dilontarkan Isaac Newton 300 tahun lalu, pemahaman tentang gravitasi meningkat dan dikembangkan sistem pemantauan fenomena gravitasi Bumi. Sistem itu lalu dimanfaatkan untuk tujuan ekonomi, mencari sumber daya mineral dan minyak bumi.

Superconducting Gravimeter merupakan alat pengukur perubahan gaya berat atau gravitasi Bumi dengan kepekaan sangat tinggi—fraksi satu permiliar kali atau nano Gal. Dengan kemampuan ini, alat yang ditempatkan di permukaan Bumi itu dapat menangkap sinyal peubah mulai dari aktivitas inti Bumi hingga ke permukaan Bumi.

Alat ini mampu memantau sinyal perubahan gaya berat atau gelombang gravitasi yang disebabkan oleh aktivitas inti Bumi dan pengaruhnya terhadap gravitasi di permukaan hingga diperoleh gambaran tentang dinamika Bumi.

SG memiliki keunggulan, yaitu dapat memantau perubahan gravitasi dengan kepekaan yang tinggi dan memberi gambaran interaksi perubahan massa atmosfer sesuai kondisi cuaca.

Selain itu, digunakan untuk memantau perilaku kerak bumi yang dipengaruhi konstelasi Bumi terhadap planet lain yang berperan dalam memicu gempa bumi. Alat ini dapat mendeteksi gempa kecil dan besar.

Sistem SG yang terpasang di Kantor Bakosurtanal Cibinong, sejak September 2008 dapat memantau gempa Gorontalo, Desember tahun lalu, dan gempa Tasikmalaya, Rabu (2/9).

Pengukuran gaya berat di Indonesia, ujar Kepala Bakosurtanal Rudolf W Matindas, telah lama dilakukan oleh perusahaan minyak di Jawa dan Sumatera. Namun, cakupannya tergolong sempit.

Data itu selama ini dirahasiakan perusahaan itu karena dapat mengungkap kondisi lapisan permukaan Bumi yang memiliki cekungan minyak. Sementara itu, di luar Pulau Jawa dan Sumatera boleh dibilang hingga kini minim data gaya berat, bahkan Papua masih tergolong blank area.

Penyediaan data gaya berat secara nasional untuk keperluan pembangunan di daerah dilakukan Bakosurtanal dengan menggandeng Denmark Technical University.

Untuk mempercepat survei gravitasi ini dipilih wahana pesawat terbang, yang menurut Koordinator Survey Airborne Gravity Indonesia (SAGI) 2008 Fientje Kasenda, memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan survei di darat atau teresterial dan satelit.

Dengan pesawat terbang, jangkauan lebih luas dan cepat untuk medan yang berat, seperti hutan, pegunungan, dan perairan dangkal hingga pesisir.

Selain itu, juga ada kesinambungan data antara laut dan darat. Resolusi data lebih baik dibandingkan dengan data satelit. Biaya pun lebih rendah.

Dalam program Bakosurtanal, tutur Matindas, SAGI tahap pertama dilakukan di seluruh Sulawesi yang topografinya kompleks. Diharapkan, survei gaya berat dan pembuatan peta seluruh Indonesia ini selesai 2012.

Putra Indonesia Temukan Senyawa 1,3 Oxaphospholes

Seorang peneliti yang juga dosen senior Universitas Palangkaraya (Unpar), Kalimantan Tengah (Kalteng), Prof Dr Ciptadi berhasil menemukan senyawa kimia baru yaitu senyawa 1,3-oxaphospholes.

Kepala Lembaga Penelitian Unpar tersebut membenarkan ia berhasil menemukan senyawa baru 1,3-oxaphospholes itu, saat diwawancarai di di Palangkaraya, Jumat (11/9).

Dijelaskannya, senyawa 1,3-oxaphospholes yang ditemukannya itu, terindikasi sebagai senyawa yang bermanfaat untuk antibiotik dan pestisida. Senyawa itu dibuat dari unsur phosphorus.

"Saat berada studi di Perancis, saya menemukan 40 senyawa oxaphospholes dan derivat-derivatnya (turunannya)," katanya.

Dari 40 senyawa baru tersebut 30 di antaranya sudah dikirim ke Bayern Jerman, sebuah lembaga farmasi yang ada di jerman. Sementara 10 senyawa baru lainnya masih dikembangkan mahasiswa program doktor (S3) di ENSCM Montapellier II Perancis.

Penemuan senyawa baru olehnya itu diharapkan dapat dipatenkan bersama-sama dengan Prof Dr Cristau, seorang guru besar asal Perancis selaku dosen pembimbing saat melakukan penelitian di laboraorium universitas tersebut.

Berdasarkan keterangan guru besar bidang biokimia/ kimia organik Unpar tersebut, penemuan tersebut cukup membanggakan bangsa Indonesia, karena jarang terdapat mahasiswa Indonesia menemukan senyawa baru di perguruan tinggi itu.

Oleh karena itu, ketika diumumkan penemuan tersebut, Duta Besar Indonesia untuk Perancis ikut menghadiri dan mengucapkan selamat atas penemuan tersebut.

Pengembangan penelitian ini masih terus dilakukan bekerjasama dengan laboratorium kimia organik ENSCM Universite Montpellier II Perancis.

Penemuan senyawa-senyawa baru tersebut sebagian sudah diseminarkan di berbagai negara di Eropa dan Asia seperti perancis, Inggris, Jerman, dan jepang.

"Sebagian juga sudah dipublikasikan pada jurnal internasional, seperti Acta Crystallographica, European Jounal of Organik Chemistry, Journal of Organometallic Chemistry, Phosphorus Sulfur and Silicon," katanya.

Ia menemukan senyawa itu saat ia mengambil program doktor (S3) kimia biomolekul di ENSCM Universite Montapellier II, Perancis.

Senin, 24 Agustus 2009

Bahasa Bugis dan Makassar Bakal Punah

MAKASSAR, TRIBUN - Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan khawatir penggunaan bahasa daerah di kalangan anak-anak di Sulsel terancam punah.

"Kepunahan bahasa daerah di Indonesia disebabkan kurangnya kurikulum bahasa daerah pada pendidikan usia dini," kata Sekertaris Provinsi Sulsel, H Andi Muallim, di Makassar

Menurut dia, hasil kajian kongres bahasa daerah Internasional yang digelar dua tahun lalu telah menyimpulkan bahwa kepunahan bahasa daerah akibat pendidikan taman kanak-kanak (TK) dan playgroup tidak lagi mengenalkan bahasa daerah secara optimal.

Kehadiran bahasa asing di sekolah-sekolah itu, lanjutnya dianggap sebagai faktor utama kurangnya kurikulum penggunaan bahasa daerah maupun bahasa Indonesia yang baik.

Padahal, ungkap Muallim, bagi kita yang sudah tua yang tidak pernah sekolah di TK masih bisa berbahasa daerah, tapi mereka yang masih muda dan sudah melalui pendidikan TK, bahasa daerah sudah terlupakan.

Adanya perubahan budaya anak-anak yang dulunya nenek yang bisa mempengaruhi cucu-cucunya berbahasa daerah. Sekarang sudah terbalik, justru cucu yang mendominasi sang nenek, sehingga nenek juga ikut-ikutan berbahasa Indonesia.

Selain itu, kurangnya minat untuk menjadi guru bahasa daerah juga dianggap sebagai salah satu penyebab utama ancaman punahnya bahasa daerah di Sulsel.

"Jadi kalau calon pengajarnya saja tidak ada, yang diajar juga sudah loyo, bagaimana mau masuk substansi," ujarnya.

Mahasiswa tidak berminat lagi dan objeknya siswa yang memang lebih banyak berbahasa Indonesia dan berbahasa asing.(*)

Jumat, 10 Juli 2009

Indonesia Menang di Kompetisi Software Dunia

Jumat, 10/07/2009 17:25 WIB
Kalahkan Brasil
Indonesia Menang di Kompetisi Software Dunia
Wicak Hidayat - detikinet

Tim Big Bang (dok. Microsoft)
Jakarta - Tim Big Bang dari Institut Teknologi Bandung mengharumkan nama Indonesia di Kairo, Mesir. Kemenangan diraih tim yang membawa aplikasi bernama MOSES itu.

Seperti dikemukakan dalam keterangan tertulis yang diterima detikINET, Jumat (10/7/2009), Tim Big Bang sukses meraih kemenangan dalam kategori Mobile Device Award dalam Imagine Cup 2009.

Di posisi selanjutnya, dalam kategori yang sama, terdapat tim dari Brasil dan Kroasia. Imagine Cup merupakan kompetisi piranti lunak tingkat dunia yang diselenggarakan oleh Microsoft.

Tim Big Bang terdiri dari David Samuel, Dody Dharma, Dominikus Damas Putranto dan Samuel Simon. Mereka menang dengan proyek bertajuk MOSES (Malaria Observation System and Endemic Surveillance).

Aplikasi MOSES menggabungkan teknologi client runtime dengan aplikasi di PDA untuk melakukan diagnosa dan analisis terhadap pasien yang diduga terkena malaria secara cepat. Solusi ini diharapkan dapat membantu masyarakat yang berada di daerah terpencil agar dapat memperoleh pelayanan kesehatan secara cepat dan tepat.

Salah satu yang menarik, Big Bang membuat tokoh digital (avatar) bernama Marceline yang akan membantu petugas kesehatan dalam diagnosa. Marceline akan bertanya pada pasien beberapa hal terkait malaria, kemudian jawaban pasien akan diolah dengan teknologi voice recognition. ( wsh / ash)

Kamis, 09 Juli 2009

Dosen Undip Temukan Sistem Pengering Sangat Efisien

Eddi Santosa - detikNews

Proses pengeringan bahan pangan dan obat sangat umum digunakan sebelum didistribusikan sampai ke konsumen. Namun proses ini sangat boros, menyita sebagian besar penggunaan energi dalam industri.

Seiring dengan semakin mahalnya energi fosil saat ini, kenaikan emisi karbon bumi serta perubahan iklim dunia, maka proses pengeringan juga menjadi semakin tidak efisien, mahal dan menekan industri menjadi megap-megap mencari terobosan.

Karena itu temuan dosen Universitas Diponegoro Mohamad Djaeni berupa sistem pengering adsorpsi dengan zeolite untuk produk bahan pangan dan tanaman obat, disambut gegap gempita dunia industri di Belanda.

Hasil riset Djaeni, yang menempuh Phd di Universitas Wageningen dengan promotor Dr.ir. A.J.B. van Boxtel, Prof. Dr. J.P.M. Sanders dan Prof. Dr. ir. G. van Straten, dikualifikasikan di Belanda sebagai sebuah terobosan dan inovasi di bidang teknologi pengeringan.

Sistem pengering adsorpsi dengan zeolite ini menjadi alternatif untuk mereduksi konsumsi energi, terutama untuk industri bahan pangan maupun obat yang memerlukan proses pengeringan dengan temperatur rendah hingga menengah.

Keunggulan lain dari temuan Djaeni ini adalah transfer air dalam sistem pengeringan menjadi jauh lebih baik dan kualitas serta kemurnian produk bisa sangat terjaga.

Selain itu sistem pengering ini juga ramah lingkungan, sesuatu yang sangat diperlukan umat manusia untuk menjamin keberlanjutan planet bumi demi anak cucu kelak.

Rabu, 08 Juli 2009

Soal Paling Sulit adalah Matematika

MAKASSAR, TRIBUN - Seleksi penerimaan siswa baru SMA di Makassar berlangsung serentak, Kamis (9/7). Sampai saat ini ujian berlangsung tertib.

"Soal matematika tentang koordinat itu yang paling susah. Saya pernah mempelajarinya tapi tidak begitu menguasainya," kata Fira, alumni SMP 30 BTP Makassar, yang mendaftar di SMA 21 Makassar.

Bahan ujian hari pertama yakni Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan IPA terpadu. Ada 60 soal yang diujiankan. Khusus di SMA 21, ada 784 orang pendaftar.

berita ini didapat dari tribun-timur.com

Rabu, 01 Juli 2009

Gaby, Peraih Nilai tertinggi UN SMP di Makassar

Pagi Sekolah, Siang Kursus



DISIPLIN, tanggung jawab, dan kejujuran. Inilah Gaby memperoleh nilai tertinggi, 38,65, dalam ujian nasional SMP tahun ini. Isinya Siswi kelahiran 17 Juni 1995 ini kemudian menunjuk salah trofi yang ada di dalam lemari itu. "Trofi ini kita dapatkan waktu ikut lomba dulu," kata Gaby sembari menunjuk trofi berkaki empat setinggi sekira satu meter, 29 Juni 2009.

Seorang teman Gaby bernama Williem mengaku senang bisa mengenal sosok Gaby. Menurut dia, Gaby adalah siswa yang rajin, bersahabat, disiplin, dan senang berdiskusi tentang pelajaran. "Dia orangnya baik kepada teman. Tidak sombong," kata Williem.

Hal serupa juga diungkap Wakil Kepala SMP Katolik Rajawali Bidang Sarana dan Prasarana, Paulus Duapadang. Menurut dia, potensi Gaby telah tampak sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar Katolik St Joseph Rajawali.

Prestasi saat SD itu di antaranya, pada 2006 lalu, memperoleh medali perak OSN matematika tingkat SD, 1st Prize Winner Assean Quiz, serta Assean School Tour Makassar-Indonesia.

Ketika melanjutkan pendidikan ke tingkat SMP pada 2007 lalu Gaby kembali menunjukan kebolehannya. Dia meraih juara 1 Mathematics Event Unhas, juara Logoc 17 pada 2008, juara dua Olimpiade Matematika Tingkat Makassar, dan siswa teladan tingkat Sulsel. Tahun 2009 menjadi juara dua Matematic Event di Unhas.

Meski dengan segudang prestasi, anak pasangan Max Kembuan dan Meiske Rovani ini tidak membuatnya sombong. "Kami sebagai orangtua memang mengajarkan kepada anak agar tetap rendah hati," kata Max Kembuan, orangtua Gaby.

Bagaimana metode belajar Gaby? Ibu Gaby, Meiske, mengatakan, anaknya tidak pernah dipaksa belajar. Memiliki kesadaran sendiri dalam belajar. Kesadaran itu muncul karena Gaby memang punya cita-cita tinggi. "Setiap saya tanya, dia (Gaby, red) bilang mau jadi dokter," kata Meiske.

Gaby juga rajin mengikuti berbagai kursus. Terutama kursus Bahasa Inggris, dan Matematika. "Barangkali ini yang membuat hasil ujian nasional anak ini memperoleh angka sepuluh mata pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris," jelas Mieske.

Aktivitas Gaby cukup ketat. Pagi sekolah, siang kursus. Sedangkan malam digunakan untuk mengulang pelajaran. Kadang berdiskusi dengan guru privat atau kakaknya yang sudah kuliah. "Tapi liburan juga penting. Otak juga harus istirahat," ujar Meiske. (*)