Kamis, 28 Januari 2010

Ujian Nasional Untungkan Lembaga Bimbel


JAKARTA -- Fraksi Partai PDI Perjuangan tetap konsisten menolak Ujian Nasional (UN) tahun ini. Fraksi PDI Perjuangan menilai, pelaksanaan UN hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu, seperti lembaga Bimbingan Belajar (Bimbel).

Ketua Pokja Komisi X PDI Perjuangan Hery Akmadi mengatakan, keputusan pemerintah untuk menjadikan UN sebagai salah satu faktor penentu kelulusan, membuat orang tua siswa berlomba-lomba memasukkan anaknya ke lembaga bimbel.

"Hampir semua orang tua siswa saat ini resah karena khawatir anaknya tidak lulus. Karena hanya ingin mengejar lulus UN itu, orientasi siswa berubah dari mencari ilmu menjadi yang penting lulus UN," kata Herry saat menggelar konferensi pers di DPR, Rabu 27 Januari.

Bila kondisi ini berlanjut dikhawatirkan akan terjadi ketimpangan pendidikan antara orang miskin dan kaya. "Maka yang akan lulus nantinya hanyalah anak-anak orang kaya, yang bisa bayar bimbel. Sementara masyarakat miskin akan kesulitan," sebutnya.

Anggota Fraksi PDI Perjuangan lainnya Deddy Gumelar menyatakan, pemerintah harus membuat formulasi baru terkait syarat kelulusan. "Saat ini pemerintah mensyaratkan, siswa harus lulus UN dan UAS (Ujian Akhir Sekolah). Menurut kami, syarat ini sangat memberatkan," kata Dedy.

Mi'ing, sapaan akrabnya meminta agar pemerintah membuat rumus baru yang di dalamnya juga memasukkan angka semester I, semester II, UN, dan UAS. Fraksi PDIP Perjuangan mengaku menyarankan untuk kembali ke rumus kelulusan lama, yakni:
P+Q+NR
------------ = X
2 + N

Namun, rumus ini ditolak mendiknas dengan alasan akan memberi kelonggaran kepada sekolah untuk meluluskan siswanya. "Sangat mengkhawatirkan karena Diknas tidak percaya dengan lembaga yang ada di bawahnya," tegas Dedy.

Puti Guntur Soekarno, anggota komisi X dari Fraksi PDI Perjuangan menambahkan, model evaluasi UN seperti saat ini harus dihentikan agar tidak terjadi lagi keresahan berkepanjangan. Sekaligus mengakhiri polemik politik antara pemerintah dan DPR, serta memastikan dunia pendidikan tetap ilmiah dan akademis dengan tidak masuk dalam ranah hukum dan politik.

"Dengan dasar ini kami menolak UN 2010, jika pemerintah menjadikan UN sebagai satu-satunya penentu kelulusan dan pemerintah bersikeras tidak menjalankan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat," tegas Puti. (mba/fmc)

Jumat, 25 Desember 2009

Siap Mogok Mengajar Massal

Guru se-Bombana, Beri Deadline 29 Desember
BOMBANA -- Pemerintah kabupaten Bombana sepertinya harus segera merealisasikan tuntutan pembayaran tunjangan peningkatan profesionalisme guru sebesar Rp 1,7 Milyar. Jika tidak, maka ribuan murid dan siswa di daerah itu bakal tidak mengikuti proses belajar mengajar hingga ujian, karena guru-guru mereka mulai dari wilayah Poleang, Rumbia/Rarowatu hingga Kabaena mengancam akan mogok mengajar.

Ancaman mogok mengajar itu sesuai hasil kesepakatan rapat antara guru bersama pengurus Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Bombana, beberapa waktu lalu. Dalam rapat itu diputuskan, guru dan PGRI memberikan dead line waktu pembayaran hingga tanggal 29 Desember nanti kepada pemerintah kabupaten Bombana untuk merealisasikan tagihan tunjangan peningkatan profesionalisme 1.205 guru se-kabupaten Bombana.

"Jika lewat dari tanggal itu, maka sehari setelah itu atau 30 Desember nanti, seluruh guru se-kabupaten Bombana mulai mogok kerja," janji Arislan, wakil ketua sekaligus mandataris ketua PGRI Bombana.

Sebagai tindak lanjut dari hasil rapat bersama kala itu, pihak PGRI Bombana, sudah melayangkan surat kepada seluruh sekolah swasta maupun negeri yang ada di Kabupaten Bombana. Menurut alumni sarjana pendidikan Universitas Haluoleo ini, dalam aksi mogok kerja itu pihak guru hanya melaksanakan fungsinya sebagai pegawai negeri sipil. Artinya, mereka hanya datang berkantor sedangkan tugas mereka sebagai pengajar tidak dilakukan.

Karena sudah disepakati, aksi mogok kerja ini ternyata mendapat respon besar dari berbagai kalangan guru. Saat koran ini menjumpai beberapa orang guru yang hadir di gedung parlemen Bombana siang kemarin, hampir semua guru menyatakan kesiapannya untuk ikut. "Sudah disepakati bersama, jadi harus dilaksanakan sebagai wujud solidaritas sesama guru yang hak-haknya telah dikebiri," kata salah seorang guru.

Jika ancaman ini terlaksana, maka murid dan siswa di kabupaten Bombana tidak bisa mengikuti ujian. Sebab pada tanggal yang disepakati itu, beberapa sekolah tengah mengagendakan pelaksanaan ujian. Ancaman mogok mengajar ini juga diutarakan perwakilan guru kepada anggota dewan yang menerima aspirasi mereka, Rabu (23/12) lalu.

Sahrun Gaus, salah satu anggota DPRD Bombana yang menerima aspirasi guru dan pengurus PGRI kemarin menyatakan, dirinya tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika aksi mogok mengajar itu terlaksana. Sebab yang korban bukan hanya anak didik tetapi masyarakat secara umum.

"Jika dibandingkan dengan tuntutan pembayaran mereka sebesar Rp 1,7 Milyar, tidak akan sebanding dengan kerugian yang akan didapati apabila PGRI dan seluruh jajarannya melakukan aksi tersebut. Untuk mengantisipasi ancaman mogok mengajar itu, sebaiknya pemerintah kabupaten segera merealisasikan hak-hak para guru tersebut, apalagi memang dianggarkan di APBD," pintanya.

La Ode Usman Sandiri, S.Sos, ketua fraksi Demokrat Indonesia Raya DPRD Bombana mengatakan, jika sampai dead line waktu yang diberikan, pemerintah kabupaten Bombana belum juga merealisasikan pembayaran tunjangan profesionalisme 1.205 guru itu, dirinya akan memberikan dukungan moral kepada seluruh guru dan PGRI untuk melakukan aksi mogok mengajar.

Dukungan itu tidak lain, karena ia merasa prihatin dengan nasib para guru yang tugasnya mencerdaskan anak bangsa termasuk anak-anak pejabat di Bombana, hak mereka telah dikebiri. "Dikemanakan uang tunjangan mereka, kenapa tidak dibayarkan. Padahal kalau dihitung, dari 1.205 guru itu, pemerintah Bombana hanya mengeluarkan dana sekitar 117. 562 rupiah perbulan, perguru.

Masa dengan jumlah ini tidak bisa dibayarkan tepat waktu. Nah karena sudah bertumpuk hingga 12 bulan, maka jumlahnya pun bertambah hingga 1,7 Milyar. Jumlah sebesar ini, tidak boleh tidak harus diselesaikan pembayarannya," ungkap pria yang lama hidup di Pulau Ambon ini. (nur/awl)

Rabu, 23 Desember 2009

Sepasang Muda-mudi Tepergok Bercumbu di Pos Polisi

Semakin lama kebobrokan semakin terasa, hal di bawah ini jangan di contoh, terutama buat para pelajar ......, begini ceritanya

PERILAKU seks tidak lagi mengenal tempat. Jika dirasa aman dan tersembunyi penglihatan orang suatu tempat akan dimanfaatkan untuk melepas birahi. Tanpa terkecuali tempat itu adalah pos polisi. Sebuah pos polisi yang berada di Jalan Toddopuli Raya dan Jalan Pengayoman, samping Pasar Toddopuli dijadikan sebagai tempat bercumbu dan berbuat mesum.

Hal ini menyusul tepergoknya sepasang muda-mudi oleh warga. Pos tersebut sebelumnya adalah pos pembantu Polsekta Panakkukang untuk pengamanan Iduladha lalu. Saat tepergok warga sekira pukul 02.00, sepasang kekasih yang diketahui berinisial Im, 18, dan Ft, 21, itu sedang melakukan hubungan laiknya sepasang suami istri. Keduanya kemudian diketahui sebagai warga Jalan Toddopuli, Rappocini.

Warga bernama Baharuddin kebetulan melintas di tempat itu bersama dengan rekan-rekannya curiga dengan sebuah sepeda motor yang terparkir di sampng pos itu. Pos yang kebetulan berada di samping tempat sampah itu langsung didatangi Baharuddin dan warga lainnya.

Saat melongok ke dalam pos, warga kaget setelah mendapati sepasang kekasih dalam kondisi setengah telanjang berada di dalam pos. "Mereka juga kaget melihat kedatangan kami dan berusaha memasang pakaian dan menutup wajahnya," jelas Baharuddin, Rabu, 23 Desember.

Oleh warga yang memergokinya, kedua pasangan ini sempat diinterogasi. Baharuddin mengatakan, mereka hanya menyebut nama dan alamat tinggalnya. Setelah ditanya sejenak, keduanya langsung diminta warga agar meninggalkan tempat itu. Tanpa banyak bicara, kedua pasangan itu dengan muka malu-malu meninggalkan pos polisi tersebut.

Kepala Sektor Kepolisian Panakkukang, Ajun Komisaris Polisi Daryanto, menyayangkan perbuatan tersebut. Menurut Daryanto, seharusnya warga melaporkan temuan dan menyerahkan kedua pasangan itu ke kantor polisi. "Sedianya jika diserahkan kita akan lakukan pembinaan agar tidak mengulangi perbuatannya di tempat itu," ujar Daryanto. (rah)

Rabu, 09 Desember 2009

Seks Bebas Merambah ke Sekolah

Berita berikut bisa menjadi acuan agar tidak terjadi di daerah kita ....... selamat membaca

PURWAKARTA -- Seks bebas di kalangan remaja, khususnya di kalangan pelajar SMP dan SMA semakin meningkat. Hal itu, dilihat dari sikap dan perilaku mereka yang semakin di luar batas. Hal itu diungkapkan Kepala Bagian (Kabag) Keluarga Berencana (KB) Badan Keluarga Berencana Perlindungan dan Anak (BKBPIA) Asep N Kusmayadi, Rabu (9/12).

Dia mengatakan, kondisi tersebut tercipta karena dampak perkembangan teknologi yang semakin modern. Selain itu, seks bebas juga tearjadi akibat lemahnya pengawasan orang tua. "Dari setiap pertanyaan yang dilontarkan pelajar ketika penyuluhan kesehatan reproduksi remaja (KRR) di setiap sekolah, mereka sepertinya sudah mengetahui tentang seks," katanya.

Masih dikatakannya, peningkatan pelaku seks bebas tersebut sekarang sudah merambah pelajar tingkat SMP. "Di samping itu, perkembangan seks bebas bisa dilihat juga dari banyaknya anak sekolah yang sering keluar malam. "Banyak anak-anak pelajar yang suka mojok di tempat gelap setiap malam," sambungnya.

Untuk memperkuat pemahaman tentang seks bebas, pihaknya ingin memperbaiki pekembangan zaman dengan penyuluhan ke tingkat sekolah dasar. Kemungkinan besar, ketika mereka mulai tumbuh dewasa akan mengerti dan memahaminya. "Mudah-mudahan dengan penyuluhan yang akan kami lakukan, bisa mengurangi tingkat kesalahan ke depan," akunya. Asep berharap peran orang tua dan ulama perlu ditingkatkan. (ays)

Jumat, 06 November 2009

Pelupa, Tapi Berprestasi


PELUPA adalah "penyakit" yang sering mendera siswa kelas III IPA 2, Trismelyana. Meski mengaku pelupa, putri pasangan Yusuf Kira dan Rice ini bisa meraih predikat siswa berprestasi di sekolahnya.

Sejak tercatat sebagai siswa di SMA Negeri 7 Makassar, Tris, begitu ia disapa termasuk unggul di bidang akademik.
Ini terbukti dengan peringkat yang diraihnya selama ini yang hanya bermain di peringkat I dan II. Tak hanya itu, Tris juga mewakili sekolah dalam paskibra Kota Makassar.
Untuk menyiasati kebiasaan pelupanya, maka Tris punya trik-trik khusus. Sepulang sekolah, ia rutin mengulangi semua pelajaran di sekolah sekitar 10 menit. Tiap subuh juga ia gunakan untuk belajar. Menurut siswa kelahiran Makassar, 19 Mei 1992 ini dalam hal belajar, ia butuh ketenangan suasana.
"Daya tangkap saya cepat, namun saya cepat pula lupa. Justru itu saya selalu mengulang-ulang pelajaran di rumah sekitar 10 menit. Mengenai cara belajar, saya terbiasa belajar dalam suasana yang tenang, kalaupun ada musik maka musik-musik yang melo, serta tanpa lagu," katanya.
Siswa yang hobi makan dan menulis cerpen itu kini berencana mengatur rutinitas hariannya. Ia pun sudah membeli buku agenda. "Saya ada niat untuk mengatur jadwal saya. Di rumah saya punya buku agenda, namun belum terisi, " ujar anak ke-3 dari 3 bersaudara ini, sambil tertawa.
Untuk mewujudkan impiannya menjadi penulis dan ahli bahasa, maka Tris berencana melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi negeri dan mengambil jurusan hubungan internasional (HI). Siswa penyuka mata pelajaran bahasa Inggris inipun ingin terus mengembangkan kemampuan berbahasa Inggrisnya.
Main ke warnet juga kebiasaan Tris. Dalam seminggu biasanya tiga hingga empat kali surfing di dunia maya. Tapi bukan asal main facebook dan chating-chatingan loh? Ternyata Tris memanfaatkan fasilitas internet untuk hal-hal yang lebih positif, seperti membuka artikel-artikel, serta sejarah kehidupan.(hasriyani latif)

data diri
* Nama: Trismelyana
* Lahir: Makassar, 19 Mei 1992
Orang Tua
* Ayah: Yusuf Kira
* Ibu: Rice
* Status dalam keluarga: Anak ke-3 dari 3 bersaudara
* Kelas: III IPA 2
* Hobi: Makan, menulis artikel
* Cita-cita: Penulis dan Ahli Bahasa
* Prestasi:
- Peringkat Kelas
- Mewakili sekolah untuk paskibra kota Makassar

Penjelasan Sekolah
Ada Apotik Hidup di Sekolah
SEKOLAH kami menerapkan sistim pemberian penghargaan kepada siswa yang punya keunggulan di bidang prestasi dan tingkah lakunya. Penghargaan ini diberikan dalam bentuk piagam ataupun perlengkapan sekolah.
Beasiswa yang diberikan juga difokuskan kepada siswa yang kurang mampu. Namun tentunya tidak lepas dari prestasi siswa tersebut. Selain sebagai bentuk penghargaan, beasiswa ini juga diberikan untuk lebih memotivasi siswa dalam peningkatan prestasi, baik di bidang akademik, maupun non akademik.
Prestasi siswa juga sangat berkaitan erat dengan kualitas guru. Makanya, sekolah kami secara berkala mengikutkan guru dalam berbagai pelatihan, ataupun mendatangkan tenaga ahli dari luar dalam memberikan pelatihan kepada para guru.
Tambahan dua jam pelajaran usai jam pelajaran sekolah usai juga diterapkan di sekolah kami sejak dua bulan lalu. Untuk kelas 1 dan kelas 2 diberikan materi pengembangan diri, sedangkan khusus untuk kelas 3, diberikan penambahan materi.
Selain bahasa Inggris yang menjadi mata pelajaran wajib bagi semua siswa, sekolah kami juga ada program muatan lokal bahasa Arab. Sekolah kami punya potensi yang sangat bagus, pasalnya masih banyak lahan kosong di sekolah, dan alhamdulillah lahan-lahan yang tersedia sebagian dimanfaatkan sebagai apotik hidup. (cr4)

*H Muh Rusman Haeba MHum, Kepala SMA Negeri 7

Penjelasan OSIS
Party Jelang UAN
PROGRAM go green, seperti penanaman bibit pohon merupakan bagian kegiatan di sekolah kami. Selain telah menjadi program OSIS, juga sekaligus mendukung program pemerintah.
Kedisiplinan baik guru maupun siswa, kekompakan antar siswa, serta sarana olahraga, seperti lapangan yang tidak terpelihara adalah hal-hal yang perlu ditingkatkan di sekolah kami.
Sebelum ujian akhir nasional (UAN), OSIS berencana menggelar party. Tentunya party ini bukan sebagai ajang hura-hura remaja, namun selain menambah kekompakan diantara warga SMA Negeri 7, kegiatan ini juga bertujuan sebagai wadah pengembangan kreativitas siswa.
Tema yang kami usung di acara nantipun berkaitan dengan kreativitas siswa saat UAN. Di acara nanti akan disuguhkan tips-tips agar dalam menghadapi UAN, siswa tidak anarkis. Anarkis yang dimaksud adalah tidak percaya diri dengan menerima kunci jawaban. (cr4)

*Ananda A Syah Putra, Ketua OSIS

Penjelasan Pembina OSIS
Tak Mampu, Buku Digratiskan

TAK salah jika Patahuddin dijuluki sebagai guru berprestasi. Pasalnya, pria kelahiran Wajo, 4 Agustus 1965 ini disamping sukses jadi pembina OSIS, ia meraih penghargaan Satya Lencana tanda kehormatan dari presiden tahun 2003. Tak hanya itu, organisasi pramuka yang ia geluti membawanya meraih empat bintang penghargaan Panca Warsa selama empat kali berturut-turut untuk kategori pembina teladan tingkat nasional.
Gotong royong merupakan sistim yang ia terapkan, baik selaku guru maupun pembina OSIS. Selama menjadi guru di SMA Negeri 7 sekaligus pembina OSIS, ia mengaku tak pernah dapat kendala berat.
"Paling hanya persoalan dana. Namun itupun bisa diatasi karena sukarela dari siswa," katanya.
Alumni UNM progran studi PPKN ini juga menuturkan kebiasaan sharing dengan siswa. Siswa yang punya kendala dalam hal keuangan dalam membeli buku, misalnya. Siswa yang benar-benar mengalami kesulitan, akan mendapatkan buku gratis.
Patahuddin menambahkan bahwa tak hanya sekolah yang memberikan beasiswa kepada sekolah, namun dalam lingkup OSIS pun demikian.
"Bagi pengurus OSIS yang berprestasi di bidang akademik, yaitu peringkat I, II, dan III, maka siswa tersebut akan mendapat bingkisan langsung dari pembina OSIS. Tak hanya itu, Ketua OSIS dan MPK juga digratiskan biaya SPPnya. Ini sebagai bentuk ucapan terima kasih yang beasiswanya dari dana OSIS," katanya.
"Dalam hal mengajar, saya lebih banyak berinteraksi langsung dengan siswa. Dan siswa belajar menyimpulkan sendiri suatu pokok bahasan," tambahnya. (cr4)

*Haji Patahuddin, Pembina OSIS, Guru PPKN

Data Sekolah SMA Negeri 7
* Status Akreditasi: A
* Berdiri: 1982
* Jumlah Siswa: 771
* Guru + Staf: 69
* Kepala Sekolah: H Muh Rusman Haeba MHum
* Alamat: Jl Perintis Kemerdekaan Km 18, Makassar
* Telepon: (0411) 550404

Suka Musik Tapi Ikut Olimpiade Matematika

Dari tribun timur

SISWA berprestasi adalah gelar yang melekat bagi Dania di sekolahnya. Bagaimana tidak, selain menjadi peringkat umum di SD Swasta Kristen Elim, putri pasangan Hermawanto dan Heni ini juga selalu berpartisipasi dalam berbagai event.

Sebut saja, pernah ikut dalam lomba matematika se-kecamatan Tamalanrea, serta pernah juga ikut dalam olympiade matematika.
Ada hal yang unik bagi anak ke-2 dari 4 bersaudara ini. Pasalnya, nilai semester untuk mata pelajaran Agama Kristen yang wajib dipelajari setiap siswa di sekolah ini mencapai nilai 100.
Hebat kan?
Jelas hebat, karena Dania mampu mengalahkan murid sebayanya yang beragama Kristen, sedangkan ia sendiri berkeyakinan Buddha. Jelas ini juga sebuah prestasi bagi siswa yang hobi bulutangkis dan musik ini.
Dalam hal kecerdasan, hampir semua mata pelajaran ia kuasai. Daya tangkap yang cepat membuatnya tidak sulit dalam memahami setiap mata pelajaran. Bahkan, ia mengaku bahwa dalam belajar tidak terlalu serius, dalam artian seimbang antara belajar dan santai.
Jika mengalami kesulitan dalam belajar, Dania tak segan-segan berkonsultasi dengan gurunya. Inilah salah satu cara yang ia lakukan agar belajarnya lebih efektif.
Bisa menolong banyak orang, itulah alasan Dania yang kelak bercita-cita jadi dokter.
Untuk menunjang semua itu, baginya kecerdasan semata di sekolah tidaklah cukup, namun harus ditopang dengan aktivitas ekstern, seperti les privat dan rajin beribadah.
Untuk menyalurkan hobinya disamping olahraga, Dania sering menyempatkan waktunya di rumah untuk bermain piano. "Saya juga senang musik, kebetulan di rumah saya punya alat sendiri, nah itu saya manfaatkan untuk menyalurkan hobi saya," katanya. (hasriyani latif)

Kamis, 05 November 2009

Remaja Belanda dan Sex Sambil Lalu

Barter sex. Sex sebagai imbalan tas baru; sex demi sebungkus rokok. Perilaku sex remaja Belanda sekarang sudah bermacam ragam. Setidaknya sebagian remaja Belanda.

Dokumenter televisi Belanda baru-baru ini menunjukkan apa yang dikhawatirkan banyak orang. Cowok dan cewek dalam usia dini sudah melakukan sex. Ada anak-anak yang melakukan sex sambil lalu.

Menteri urusan Pemuda dan Keluarga Belanda menyatakan prihatin. Sudah berapa jelek kondisinya? Sudahkah remaja Belanda kehilangan moral dalam hal sex? Tampaknya sudah seperti apa yang dikatakan anak-anak dalam film dokumenter yang bernama Sex Sells berikut ini:

"Sekarang gampang sekali. Kalau kamu berusia 13 tahun dan saya bilang kamu dikasih minuman, kalau mau ngesex sama saya, ada orang yang mau lho... Di toilet tiba-tiba saya dengar seorang cewek bilang, sayang, di pantatku... Di diskotek banyak anak berusia 13 tahun, semuanya mabuk berat dan mereka tidak sadar lagi apa yang mereka lakukan. Andaikan dia tidak mabuk, maukah dia?"

Kemerosotan moral
Jadi, banyak remaja dalam film dokumenter Sex Sells, garapan wartawan Belanda Mildred Roethof. Dokumenter yang disiarkan di televisi nasional Belanda itu, kembali menyulut perdebatan tentang sexualitas remaja.

Sebenarnya ini bukan diskusi baru. Pada tiap zaman selalu terjadi pergulatan tentang sampai di mana para remaja boleh melanggar batas. Tetapi untuk kali pertama di negeri Kincir Angin ini, ada menteri yang bertanggungjawab terhadap pendidikan anak yakni Menteri urusan Pemuda dan Keluarga, André Rouvoet.

Menteri Rouvoet berasal partai kecil Kristen ortodoks, ChristenUnie. Rasa prihatinnya terhadap kemerosotan moral beberapa kelompok remaja mengenai sex didukung partai lain dalam koalisi yakni Partai Kristen Demokrat, CDA. Berikut Mirjam Sterk dari Partai Kristen Demokrat.

"Saya menganggapi ini masalah. Ada kelompok remaja Belanda yang bersedia melakukan sex dengan orang yang tidak dikenal, karena mau langganan HP atau mau dikasih webcam. Dan menganggap normal kalau ada anak berusia tujuh tahun melakukan sex. Kami prihatin tentang ini dan harus ada yang diperbuat".

Orangtua
Partai Kristen ortodoks dalam koalisi pemerintahan mendukung Menteri André Rouvoet dalam upaya mempengaruhi cara orangtua mendidik anaknya. Banyak di antaranya berpendapat, satu-satunya perbedaan antara debat saat ini dan diskusi sebelumnya dalam soal sexualitas kaum muda, adalah seberapa jauh kaum muda mau melakukan itu.

Ineke van der Vlugt adalah peneliti di Rutger Nisso Grup, kelompok pemikir independen yang menyebut diri pusat ahli sexualitas Belanda. Ia menyatakan pendapatnya mengenai dokumenter tersebut:

"Itu adalah gambar yang mengejutkan, namun secara bersamaan saya tahu dari penelitian, bahwa itu menyangkut prosentase kecil saja di kalangan kaum muda. Tetap, itu harus membuat kita khawatir. Kendati itu bukanlah gambaran umum kaum muda kita".

Ineke van der Vlugt juga menyatakan definisi perilaku sex yang tidak perlu dikhawatirkan.

"Sejauh kaum muda berhubungan sex dan menikmatinya serta memperhitungkan harapan dan batasan orang lain dan dirinya serta melakukannya dengan aman, maka itu tidak perlu dikhawatirkan".

Jadi tampaknya moral sex warga Belanda tidaklah begitu buruk. Namun politisi dan jurnalis haus akan cerita yang laris. Dan dalam hal ini dokumenter itu menampilkan sesuatu yang tepat yaitu penjualan sex.

Sumber :