Senin, 22 Februari 2010

Psikolog: Efektif Bila Diberikan Sanksi yang Mendidik


Dirazianya pelajar yang mengenakan seragam sekolah di warnet-warnet oleh Satpol PP dan Dinas Pendidikan Kota Bandung dinilai psikolog Teddy Hidayat sebagai suatu langkah tepat. Namun dengan catatan penyelenggara razia harus menetapkan sanksi yang mendidik bagi mereka yang terjaring.

"Saya setuju dengan razia ini. Karena mereka seharusnya ada di sekolah pada saat jam sekolah," jelas Teddy saat berbincang dengan detikbandung melalui ponselnya, Senin (22/2/2010).

Tetapi, kata Teddy, razia tersebut harus ditindaklanjuti dengan sanksi yang mendidik. Contohnya, tutur dia, seperti kerja bakti di sekolah selama satu minggu. Atau membersihkan WC selama satu jam setiap pulang sekolah.

"Jadi ada sanksi sosialnya. Bukan sekadar razia saja dan setelah itu datanya diserahkan ke sekolah," tutur Teddy.

Teddy juga menekankan jika razia ini bertujuan untuk menegakkan kedisiplinan para pelajar, Satpol PP dan Disdik harus konsisten dan tidak pilih-pilih.

"Kalau memang untuk penegakan disiplin, tentu pihak-pihak terkait harus konsisten dan tidak pilih-pilih. Entah itu warnetnya atau siswanya ya kalau memang salah tindakannya harus tegas," terangnya.

Ia menambahkan, tempat mengakses internet yang paling ideal bagi para pelajar adalah sekolah. "Sekolah harusnya menyediakan. Guru jelas bisa menjadi pengawas dan tidak lagi was-was siswanya mengakses situs yang tidak baik," imbuhnya

Namun begitu, Teddy tidak mengelak jika banyak pelajar yang menjadikan warnet sebagai tujuan ketika pulang sekolah. Secara psikologis hal tersebut wajar. Sebab, tambah Teddy, pelajar butuh mencari informasi.

"Di rumah belum tentu ada internet. Nah, di sini siswa harus ditanamkan kedisiplinan dalam menggunakan internet. Kapan dia bisa mengakses situs yang sifatnya hiburan atau kapan dia harus menggunakan internet seefektif mungkin. Semisal untuk mencari materi tugasnya," tuturnya.

(dip/bbn)

Kamis, 11 Februari 2010

Guru Melacur Demi Siswa Sekolahnya

Hal ini mungkin cuma sebuah cerita belaka..., namun patut untuk di selami...
ini dia ceritanya

tinggal di desa kecil di propinsi Gan Shu. Awalnya dia bukan pelacur. Setiap penduduk di desa tersebut tidak mengerti kenapa seorang gadis secantik Xia yang mempunya paras tubuh yang indah dan rupa yang menawan tidak melakukan seperti gadis gadis lain nya.

Photo for Kisah Guru Yang Paling Mulia
Kisah Guru Yang Paling Mulia

Karena Xia menolak akan hal ini, ayah nya Xia selalu menghukum dia.Suatu hari Xia mendengar bahwa sebuah sekolah di desa membutuhkan jasa seorang guru Xia langsung dengan sukarela menjadi seorang guru dengan tanpa imbalan.

Spoiler for Baca Kisah Selengkapnya Seorang Guru Mulai:
Pas hari pertama Xia masuk ke sekolah menjadi seorang guru, setiap murid kaget dan terpukau akan kecantikan guru baru mereka Sejak saat itu Kelas selalu menjadi penuh dengan canda tawa setiap murid. Kelas mereka lebih layak untuk di sebut sebagai tempat penampungan daripada bangku bangku sekolah yang normal. Dalam kondisi kelas yang sekarat ini, Xia mengajarkan beribu ribu kata kata chinese dan pengetahuan laennya kepada murid murid nya Suatu hari badai besar menghancurkan kelas mereka semua murid tidak bisa melanjutkan pendidikannya. Lalu kepala sekolah datang ke kota untuk merundingkan hal tersebut dengan walikota yang mengurus budget bagian pendidikan agar memberikan sumbangan uang utk membetulkan sekolah mereka akan kepala sekolah kembali dengan tangan kosong. Kepala sekolah mengatakan kepada Xia bahwa walikota akan memberikan uang kalo hanya Xia yang datang kepada dia dan meminta uang kepadanya secara personal, Xia yang tidak pernah keluar dari desa dan meninggalkan rumah nya dan tidak pernah bertemu dengan walikota sebelumnya, telah memutuskan untuk berangkat dari rumah untuk mengunjungi sang walikota. Sebelumnya Xia kwatir kalo kunjungan dia akan mengacaukan suasana, akan tetapi dia tetep memutuskan pergi demi murid murid nya.

Xia berjalan lebih dari 10 kilo untuk ke kantor sang walikota setelah sampai, Xia duduk di depan kantor yang bagus di ruangan sang walikota. Setiba nya di kantor, sang walikota menyambut kedatangan Xia dengan sepasang mata pemburu yang haus akan Xia dan mununjukan tangannya ke sebuah ruangan dan mengatakan “Uang kamu ada di kamar tersebut… kalau kamu mau, kamu ikuti aku” Xia melihat sebuah ruangan dengan ranjang yang besar, ranjang tersebut lah yang telah merenggut keperawanan Xia, Sang walikota telah memperkosa Xia. Darah segar dari keperawannan nya telah meninggalkan bekas dan jejak di sprei darah merah tersebut menjadi lebih merah daripada warna bendera national China. Xia tidak menangis sedikit pun yang ada di pikiran nya adalah berpuluh puluh mata murid murid nya yang akan kecewa kalo tidak ada kelas buat mereka belajar.

Setelah itu Xia bergegas balik ke rumah yang gelap dan tidak memberi tahu kepada seorang pun tentang kejadian tersebut. Hari berikutnya, para penduduk membeli kayu dan membetulkan kondisi kelas. Akan tetapi kala ada hujan yang deras, kelas tersebut tetap tidak bisa di gunakan. Xia mengatakan kepada murid muridnya bahwa walikota akan membangun sebuah sekolah yang bagus buat mereka. Dalam kurang lebih 6 bulan, kepala sekolah mengunjungi walikota 10x akan tetapi tetep tidak diberikan dana yang dijanjikan kepada mereka. Hanya walikota lah yang tau apa yang telah terjadi pada Xia akan tetapi tidak bisa berbuat banyak tentang itu.

Pada saat semester baru berganti, banyak murid yang tidak bisa melanjutkan sekolah nya karena biaya dan mereka harus membantu orang tua nya untuk bekerja… Jumlah murid nya berkurang dan bekurang. Xia sangat sedih akan kondisi seperti itu. Ketika Xia mengetahui bahwa harapan murid muridnya telah hilang bagaikan asap. Dia lalu kembali ke kamarnya. Xia membuka bajunya, dan melihat tubuh telanjangnya di depan cermin. Xia bersumpah akan memakai tubuhnya yang indah untuk mewujudkan impian dari murid muridnya untuk bisa kembali sekolah… Xia tau semua gadis dari desa bekerja sebagai pelacur di kota untuk mencari uang dan itu cara yang gampang untuk dia untuk mendapatkan uang. Dia membersihkan dirinya dan mengucapakan selamat tingal kepada kepala sekolah, ayah dan sekolah…

Dia mengikat rambut nya dengan kuncir dua dan berjalan menuju kota. Ketika dia berangkat ke kota, ayahnya tersenyum bangga akan tetapi kepala sekolah menangis sedih akan pilihan yang Xia lakukan….Di dalam glamor kehidupan kota, Xia tidak senang sama sekali dia menderita, dalam benak pikirannya, hanya ada sebuah kelas yang hancur dan keprihatian dan kesedihan dan kekecewaan expressi dari murid muridnya…. Xia masuk ke buat salon, berbaring di ranjang yang kotor dan menderita kerja kotor yang kedua di dunia percabulan… Malam itu di dalam diary nya Xia menulis “Sang walikota tidak bisa di bandingakan dengan tamu pertama nya lebih parah dan lebih kejam akan tetapi paling tidak tamu nya telah membayar dan memberi uang”

Xia mengirimkan semua uang penghasilannya kepada kepala sekolah dengan mengirit irit biaya untuk hidup nya dengan harapan bisa mengirim lebih banyak lagi ke kepala sekolah. Sang kepala sekolah menerima uang tersebut dan mengikuti untuk menggunakan uang utk membangun sekolah… Ketika setiap orang yang menanyakan sumber uang tersebut, sang kepala sekolah hanya menjawab bahwa di dapat dari donasi dari organisasi social. Akan tetapi seiring waktu, penduduk mengetahui bahwa sumber dana dari seorang mantan guru yang bernama Xia. Banyak reporters yang ingin meliputi berita ini akan tetapi di tolak oleh Xia dengan alasan bahwa dia hanya seorang pelacur biasa.Dengan uang tersebut, sekolah telah berubah drastis…Bulan pertama, ada papan tulis baru…Bulan ke dua, ada bangku kayu dan bangku…Bulan ke tiga, setiap murid mempunyai buku masing masing. Bulan ke empat, setiap murid mempunya dasi masing masing. Bulan ke lima, tidak ada seorang murid pun yang datang ke sekolah tanpa alas kaki.

Bulan ke enam, Xia kembali mengunjungi sekolah Xia disambut dengan gembira dan para murid menyapa”Guru, kamu telah kembali guru, kamu cantik sekali”Melihat kegembiraan dari para murid muridnya, Xia tidak berkuasa untuk menangis,Tidak peduli berapa banyak air mata yang di teteskan nya dan berapa banyak derita, keluh kesan dan kisah sedih yang dia lalui dalam 6 bulan, Xia merasakan semua kisah sedih dan penderitannya itu sangat seimbang dan pantas untuk harga yang dia bayar untuk melihat apa yang Xia lihat saat itu. Setelah beberapa hari di rumah, Xia kembali ke kota. Pada bulan ke tujuh, sekolah telah mempunyai lapangan bermain yang baru. Pada bulan ke delapan, sekolah membangun lapangan basket…pada bulan ke sembilan, setiap murid mempunya pensil yang baru. Pada bulan ke 10, sekolah mempunya bendera nasional sendiri, setiap murid bisa menaikan bendera setiap hari nya.

Hingga suatu waktu Xia dikenalkan kepada seorang businessman. Sang pengusaha luar asing bersedia membayar 3000 rmb buat satu malam. Dengan pikiran yang lelah yang telah dia lalui bbrp tahun lalu, Xia dengan lelah menuju hotel sang pengusaha asing. Dia bersumpah bahwa itu adalah pekerjaan kotor yang terakhir bagi dia dan setelah itu dia akan kembali ke desa dan bersama sama murid muridnya di sekolah. Akan tetapi nasib berkata lain sungguh tragis telah terjadi malam itu dimana Xia bersumpah untuk terakhir kali nya, Xia di diperkosa dan di siksa hingga terbunuh oleh 3 pengusaha asing tersebut. Xia baru saja bertambah umur nya menjadi umur 21 tahun. Xia saat itu juga meninggal tanpa mencapai keinginan yang terakhir, yaitu untuk membangun satu kelas bagus dengan 2 komputer yang bisa digunakan oleh murid murid.

Seorang pelacur telah meninggal dunia… keheningan yang di penuhi air mata. Saat itu langit kota ShenZen masih berwarna biru seperti lautan. Para murid2, guru2 dan beberapa ratus penduduk menghadiri acara pemakaman Xia di desa kecil bernama “GanShu” Pada saat itu, semua hanya bisa melihat foto hitam putih dari Xia dalam foto itu Xia mengikat rambut nya 2 dengan senyuman bahagia… Kepala sekolah membuka diary Xia dan membacakanya di depan para murid murid nya dan Xia menulis “Sekali melacur, bisa membantu satu anak yang tidak bisa sekolah. Sekali menjadi wanita simpanan, bisa membangun sebuah sekolah yang telah hilang harapan. Bendera setengah tiang dikibarkan.

Pelajar Yang melakukan perbuatan Mesum di Kelas di Depan Temannya

Pelajar Ini Mesum di Kelas di Depan Temannya


SAMARINDA,— Sebanyak 14 pelajar Madrasah Tsanawiah Model Samarinda, Kalimantan Timur, dipecat akibat berbuat mesum di dalam kelas. Informasi yang berhasil dihimpun menunjukkan bahwa terbongkarnya kasus itu bermula dari laporan kepada seorang guru yang menyebut adanya perbuatan mesum sejumlah pelajar MTsN Model di Samarinda itu.

Pada minggu pertama dan kedua Februari 2010, MTsN Samarinda itu kemudian membentuk tim khusus untuk menyelidiki kebenaran informasi tersebut.

Tim kemudian memantau dengan cara meninggalkan ruang kelas dan melarang pelajar keluar dari ruangan.

Hasilnya, mereka menemukan 14 pelajar, yang terdiri dari 7 pelajar putri dan 7 pelajar putra mulai kelas I hingga kelas III, melakukan perbuatan tak senonoh di dalam kelas.

"Mereka kedapatan melakukan perbuatan mesum di dalam kelas pada jam istrahat atau di belakang gedung sekolah. Bahkan ada yang melakukannya di hadapan pelajar lain," ujar seorang pelajar kelas III MTsN Model Samarinda, Sidiq Irjali.

Pelajar MTsN Model Samarinda lainnya, Hariyadi, mengaku malu dengan kejadian tersebut.

"Kami sudah lama mendengar informasi itu, bahkan di sekolah isu tersebut sudah menyebar. Selain melakukan perbuatan tak senonoh seperti berpeluk-pelukan di dalam kelas dan di areal sekolah, di antara mereka yang dikeluarkan itu juga sering merokok," kata Hariyadi.

Kamis, 28 Januari 2010

Ujian Nasional Untungkan Lembaga Bimbel


JAKARTA -- Fraksi Partai PDI Perjuangan tetap konsisten menolak Ujian Nasional (UN) tahun ini. Fraksi PDI Perjuangan menilai, pelaksanaan UN hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu, seperti lembaga Bimbingan Belajar (Bimbel).

Ketua Pokja Komisi X PDI Perjuangan Hery Akmadi mengatakan, keputusan pemerintah untuk menjadikan UN sebagai salah satu faktor penentu kelulusan, membuat orang tua siswa berlomba-lomba memasukkan anaknya ke lembaga bimbel.

"Hampir semua orang tua siswa saat ini resah karena khawatir anaknya tidak lulus. Karena hanya ingin mengejar lulus UN itu, orientasi siswa berubah dari mencari ilmu menjadi yang penting lulus UN," kata Herry saat menggelar konferensi pers di DPR, Rabu 27 Januari.

Bila kondisi ini berlanjut dikhawatirkan akan terjadi ketimpangan pendidikan antara orang miskin dan kaya. "Maka yang akan lulus nantinya hanyalah anak-anak orang kaya, yang bisa bayar bimbel. Sementara masyarakat miskin akan kesulitan," sebutnya.

Anggota Fraksi PDI Perjuangan lainnya Deddy Gumelar menyatakan, pemerintah harus membuat formulasi baru terkait syarat kelulusan. "Saat ini pemerintah mensyaratkan, siswa harus lulus UN dan UAS (Ujian Akhir Sekolah). Menurut kami, syarat ini sangat memberatkan," kata Dedy.

Mi'ing, sapaan akrabnya meminta agar pemerintah membuat rumus baru yang di dalamnya juga memasukkan angka semester I, semester II, UN, dan UAS. Fraksi PDIP Perjuangan mengaku menyarankan untuk kembali ke rumus kelulusan lama, yakni:
P+Q+NR
------------ = X
2 + N

Namun, rumus ini ditolak mendiknas dengan alasan akan memberi kelonggaran kepada sekolah untuk meluluskan siswanya. "Sangat mengkhawatirkan karena Diknas tidak percaya dengan lembaga yang ada di bawahnya," tegas Dedy.

Puti Guntur Soekarno, anggota komisi X dari Fraksi PDI Perjuangan menambahkan, model evaluasi UN seperti saat ini harus dihentikan agar tidak terjadi lagi keresahan berkepanjangan. Sekaligus mengakhiri polemik politik antara pemerintah dan DPR, serta memastikan dunia pendidikan tetap ilmiah dan akademis dengan tidak masuk dalam ranah hukum dan politik.

"Dengan dasar ini kami menolak UN 2010, jika pemerintah menjadikan UN sebagai satu-satunya penentu kelulusan dan pemerintah bersikeras tidak menjalankan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat," tegas Puti. (mba/fmc)

Jumat, 25 Desember 2009

Siap Mogok Mengajar Massal

Guru se-Bombana, Beri Deadline 29 Desember
BOMBANA -- Pemerintah kabupaten Bombana sepertinya harus segera merealisasikan tuntutan pembayaran tunjangan peningkatan profesionalisme guru sebesar Rp 1,7 Milyar. Jika tidak, maka ribuan murid dan siswa di daerah itu bakal tidak mengikuti proses belajar mengajar hingga ujian, karena guru-guru mereka mulai dari wilayah Poleang, Rumbia/Rarowatu hingga Kabaena mengancam akan mogok mengajar.

Ancaman mogok mengajar itu sesuai hasil kesepakatan rapat antara guru bersama pengurus Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Bombana, beberapa waktu lalu. Dalam rapat itu diputuskan, guru dan PGRI memberikan dead line waktu pembayaran hingga tanggal 29 Desember nanti kepada pemerintah kabupaten Bombana untuk merealisasikan tagihan tunjangan peningkatan profesionalisme 1.205 guru se-kabupaten Bombana.

"Jika lewat dari tanggal itu, maka sehari setelah itu atau 30 Desember nanti, seluruh guru se-kabupaten Bombana mulai mogok kerja," janji Arislan, wakil ketua sekaligus mandataris ketua PGRI Bombana.

Sebagai tindak lanjut dari hasil rapat bersama kala itu, pihak PGRI Bombana, sudah melayangkan surat kepada seluruh sekolah swasta maupun negeri yang ada di Kabupaten Bombana. Menurut alumni sarjana pendidikan Universitas Haluoleo ini, dalam aksi mogok kerja itu pihak guru hanya melaksanakan fungsinya sebagai pegawai negeri sipil. Artinya, mereka hanya datang berkantor sedangkan tugas mereka sebagai pengajar tidak dilakukan.

Karena sudah disepakati, aksi mogok kerja ini ternyata mendapat respon besar dari berbagai kalangan guru. Saat koran ini menjumpai beberapa orang guru yang hadir di gedung parlemen Bombana siang kemarin, hampir semua guru menyatakan kesiapannya untuk ikut. "Sudah disepakati bersama, jadi harus dilaksanakan sebagai wujud solidaritas sesama guru yang hak-haknya telah dikebiri," kata salah seorang guru.

Jika ancaman ini terlaksana, maka murid dan siswa di kabupaten Bombana tidak bisa mengikuti ujian. Sebab pada tanggal yang disepakati itu, beberapa sekolah tengah mengagendakan pelaksanaan ujian. Ancaman mogok mengajar ini juga diutarakan perwakilan guru kepada anggota dewan yang menerima aspirasi mereka, Rabu (23/12) lalu.

Sahrun Gaus, salah satu anggota DPRD Bombana yang menerima aspirasi guru dan pengurus PGRI kemarin menyatakan, dirinya tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika aksi mogok mengajar itu terlaksana. Sebab yang korban bukan hanya anak didik tetapi masyarakat secara umum.

"Jika dibandingkan dengan tuntutan pembayaran mereka sebesar Rp 1,7 Milyar, tidak akan sebanding dengan kerugian yang akan didapati apabila PGRI dan seluruh jajarannya melakukan aksi tersebut. Untuk mengantisipasi ancaman mogok mengajar itu, sebaiknya pemerintah kabupaten segera merealisasikan hak-hak para guru tersebut, apalagi memang dianggarkan di APBD," pintanya.

La Ode Usman Sandiri, S.Sos, ketua fraksi Demokrat Indonesia Raya DPRD Bombana mengatakan, jika sampai dead line waktu yang diberikan, pemerintah kabupaten Bombana belum juga merealisasikan pembayaran tunjangan profesionalisme 1.205 guru itu, dirinya akan memberikan dukungan moral kepada seluruh guru dan PGRI untuk melakukan aksi mogok mengajar.

Dukungan itu tidak lain, karena ia merasa prihatin dengan nasib para guru yang tugasnya mencerdaskan anak bangsa termasuk anak-anak pejabat di Bombana, hak mereka telah dikebiri. "Dikemanakan uang tunjangan mereka, kenapa tidak dibayarkan. Padahal kalau dihitung, dari 1.205 guru itu, pemerintah Bombana hanya mengeluarkan dana sekitar 117. 562 rupiah perbulan, perguru.

Masa dengan jumlah ini tidak bisa dibayarkan tepat waktu. Nah karena sudah bertumpuk hingga 12 bulan, maka jumlahnya pun bertambah hingga 1,7 Milyar. Jumlah sebesar ini, tidak boleh tidak harus diselesaikan pembayarannya," ungkap pria yang lama hidup di Pulau Ambon ini. (nur/awl)

Rabu, 23 Desember 2009

Sepasang Muda-mudi Tepergok Bercumbu di Pos Polisi

Semakin lama kebobrokan semakin terasa, hal di bawah ini jangan di contoh, terutama buat para pelajar ......, begini ceritanya

PERILAKU seks tidak lagi mengenal tempat. Jika dirasa aman dan tersembunyi penglihatan orang suatu tempat akan dimanfaatkan untuk melepas birahi. Tanpa terkecuali tempat itu adalah pos polisi. Sebuah pos polisi yang berada di Jalan Toddopuli Raya dan Jalan Pengayoman, samping Pasar Toddopuli dijadikan sebagai tempat bercumbu dan berbuat mesum.

Hal ini menyusul tepergoknya sepasang muda-mudi oleh warga. Pos tersebut sebelumnya adalah pos pembantu Polsekta Panakkukang untuk pengamanan Iduladha lalu. Saat tepergok warga sekira pukul 02.00, sepasang kekasih yang diketahui berinisial Im, 18, dan Ft, 21, itu sedang melakukan hubungan laiknya sepasang suami istri. Keduanya kemudian diketahui sebagai warga Jalan Toddopuli, Rappocini.

Warga bernama Baharuddin kebetulan melintas di tempat itu bersama dengan rekan-rekannya curiga dengan sebuah sepeda motor yang terparkir di sampng pos itu. Pos yang kebetulan berada di samping tempat sampah itu langsung didatangi Baharuddin dan warga lainnya.

Saat melongok ke dalam pos, warga kaget setelah mendapati sepasang kekasih dalam kondisi setengah telanjang berada di dalam pos. "Mereka juga kaget melihat kedatangan kami dan berusaha memasang pakaian dan menutup wajahnya," jelas Baharuddin, Rabu, 23 Desember.

Oleh warga yang memergokinya, kedua pasangan ini sempat diinterogasi. Baharuddin mengatakan, mereka hanya menyebut nama dan alamat tinggalnya. Setelah ditanya sejenak, keduanya langsung diminta warga agar meninggalkan tempat itu. Tanpa banyak bicara, kedua pasangan itu dengan muka malu-malu meninggalkan pos polisi tersebut.

Kepala Sektor Kepolisian Panakkukang, Ajun Komisaris Polisi Daryanto, menyayangkan perbuatan tersebut. Menurut Daryanto, seharusnya warga melaporkan temuan dan menyerahkan kedua pasangan itu ke kantor polisi. "Sedianya jika diserahkan kita akan lakukan pembinaan agar tidak mengulangi perbuatannya di tempat itu," ujar Daryanto. (rah)

Rabu, 09 Desember 2009

Seks Bebas Merambah ke Sekolah

Berita berikut bisa menjadi acuan agar tidak terjadi di daerah kita ....... selamat membaca

PURWAKARTA -- Seks bebas di kalangan remaja, khususnya di kalangan pelajar SMP dan SMA semakin meningkat. Hal itu, dilihat dari sikap dan perilaku mereka yang semakin di luar batas. Hal itu diungkapkan Kepala Bagian (Kabag) Keluarga Berencana (KB) Badan Keluarga Berencana Perlindungan dan Anak (BKBPIA) Asep N Kusmayadi, Rabu (9/12).

Dia mengatakan, kondisi tersebut tercipta karena dampak perkembangan teknologi yang semakin modern. Selain itu, seks bebas juga tearjadi akibat lemahnya pengawasan orang tua. "Dari setiap pertanyaan yang dilontarkan pelajar ketika penyuluhan kesehatan reproduksi remaja (KRR) di setiap sekolah, mereka sepertinya sudah mengetahui tentang seks," katanya.

Masih dikatakannya, peningkatan pelaku seks bebas tersebut sekarang sudah merambah pelajar tingkat SMP. "Di samping itu, perkembangan seks bebas bisa dilihat juga dari banyaknya anak sekolah yang sering keluar malam. "Banyak anak-anak pelajar yang suka mojok di tempat gelap setiap malam," sambungnya.

Untuk memperkuat pemahaman tentang seks bebas, pihaknya ingin memperbaiki pekembangan zaman dengan penyuluhan ke tingkat sekolah dasar. Kemungkinan besar, ketika mereka mulai tumbuh dewasa akan mengerti dan memahaminya. "Mudah-mudahan dengan penyuluhan yang akan kami lakukan, bisa mengurangi tingkat kesalahan ke depan," akunya. Asep berharap peran orang tua dan ulama perlu ditingkatkan. (ays)